artofmedicine

GANGGUAN PENDENGARAN

Pendengaran adalah fungsi yang penting dan sangat berharga dalam kehidupan, terutama dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Gangguan dengar atau ketulian yang bersifat permanen bukan tidak mungkin menimbulkan masalah psikososial dan kesehatan yang pada akhirnya menyebabkan seseorang kehilangan pekerjaan, depresi, dan terisolasi dari kehidupan sosial.

Sistem Pendengaran

Sistem pendengaran dapat dibagi ke dalam empat bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah, telinga dalam, dan sistem saraf pendengaran disertai pusat pendengaran di otak. Telinga luar berperan pasif tetapi penting bagi pendengaran. Daun telinga berfungsi mengumpulkan suara dan mengetahui lokasi datangnya suara, sedangkan liang telinga (saluran telinga luar) karena bentuk dan dimensinya yang membuat ia bersifat resonator, maka dapat menambah intensitas (kekerasan bunyi) pada rentang frekuensi 2-4 kilohertz (kHz) sebesar 10-15 dB.
Telinga tengah dengan 3 buah tulang pendengarannya (maleus-inkus-stapes) membentuk sistem pengungkit (katrol) untuk menghantarkan suara dari gendang telinga ke fenestra/foramen ovale (lubang pada tulang yang membatasi telinga tengah dan telinga dalam). Transmisi energi suara melalui telinga tengah ini diawali dengan bergetarnya gendang telinga yang menggerakkan maleus. Selanjutnya lengan tulang maleus dan prosesus (tonjolan) tulang inkus bergerak bersama-sama untuk kemudian menyebabkan tulang stapes bergerak seperti piston di dalam fenestra ovale.
Gerakan piston dari stapes tersebut menimbulkan perubahan tekanan yang akan diteruskan dan dihantarkan melalui cairan perilimfe di telinga dalam (koklea) ke sekat koklea. Transmisi tekanan ini menyebabkan sekat koklea menggelembung ke atas dan ke bawah dan mengaktifkan sel rambut di dalam organokorti untuk merangsang saraf pendengaran. Artinya pada telinga luar dan telinga tengah terjadi proses transmisi (hantaran suara) dan transformasi (peningkatan energi suara), sedangkan di telinga dalam terjadi proses mekanotransduksi (perubahan energi suara menjadi energi potensial listrik). Perubahan potensial inilah yang kemudian akan merangsang terjadinya aktivasi sepanjang serabut saraf pendengaran untuk kemudian dipersepsikan sebagai suara di pusat pendengaran di otak.

Gangguan Dengar
Gangguan dengar didefinisikan sebagai berkurangnya pendengaran dari derajat ringan sampai sangat berat. Jika seseorang dapat mendengar suara dari suatu sumber bunyi dengan intensitas (tingkat kekerasan bunyi) antara 0-25 dB, maka ia memiliki fungsi pendengaran yang normal. Berdasarkan titik tolak tersebut, maka jika seseorang:
baru dapat mendengar suara dengan intensitas”
1. 26-40 dB : gangguan dengar ringan
2. 41-55 dB : gangguan dengar sedang
3. 56-70 dB : gangguan dengar sedang-berat
4. 71-90 dB : gangguan dengar berat
5. > 90 dB : gangguan dengar sangat berat

Adapun jenis gangguan dengar dapat dikategorikan ke dalam gangguan dengar tipe konduktif (conductive hearing loss) terjadi bila terdapat gangguan hantaran suara yang ditransmisikan melalui udara mulai dari liang telinga (saluran telinga luar), gendang telinga, rangkaian tulang pendengaran yang terdapat di rongga telinga tengah, hingga sampai foramen ovale. Artinya suatu kelainan yang terdapat pada setiap area di atas dapat menyebabkan gangguan pendengaran tipe konduktif. Sampai batas tertentu, gangguan pendengaran tipe ini masih dapat diperbaiki. Kategori lainnya adalah gangguan dengar tipe sensorineural (sensorineural hearing loss) yang akan terjadi jika hantaran suara melalui tulang untuk transmisi di daerah persepsi (sel-sel rambut organokorti di telinga dalam hingga saraf pendengaran area auditorius di otak). Bisa saja terdapat gangguan pendengaran pada kedua jenis hantaran di atas yang kemudian dikategorikan sebagai gangguan dengar/tuli campur.

Source : http://imammegantara.blogspot.com/2008/06/gangguan-dengar.html


KELAINAN TELINGA LUAR

Hematoma
Hematoma daun telinga disebabkan oleh trauma. Terdapat kumpulan darah di antara perikondrium dan tulang rawan. Kumpulan darah ini harus dikeluarkan secara steril untuk mencegah infeksi, contohnya: perikondritis.

Perikondritis
Peradangan pada tulang rawan telinga. Terjadi karena trauma akibat kecelakaan, operasi daun telinga yang terinfeksi dan komplikasi pseudokista daun telinga. Bila pengobatan dengan antibiotik gagal dapat timbul komplikasi berupa daun telinga mengkerut(cauliflower ear) akibat hancur tulang  rawan yang menjadi kerangka daun telinga.

Pseudokista
Benjolan di daun telinga disebabkan kumpulan cairan kekuningan di antara lapisan perikondrium dan tulang rawan telinga. Benjolan ini tidak nyeri dan tidak diketahui penyebabnya. Kumpulan cairan ini harus dikeluarkan secara steril untuk mencegah timbul perikondritis. Kemudian dilakukan balut tekan dengan bantuan semen gips selama seminggu supaya perikondrium melekat pada tulang rawan kembali. Apabila perlekatan tidak sempurna dapat timbul kekekambuhan.


KELAINAN LIANG TELINGA

Serumen
Serumen ialah hasil produksi kelenjar sebasea, kelenjar seruminosa, epitel kulit yang terlepas dan partikel debu.Dalam keadaan normal serumen terdapat di sepertiga luar liang telinga karena kelenjar tersebut hanya ditemukan di daerah ini. Konsistensinya biasanya lunak, tetapi kadang-kadang kering. Dipengaruhi faktor keturunn, iklim, usia dan keadaan lingkungan.

Benda Asing di Liang Telinga
Benda asing yang ditemukan bisa berupa benda mati atau benda hidup, binatang, komponen tumbuh-tumbuhan atau mineral. Mengeluarkan benda asing harus berati-hati. bilakurang berhati-hati atau pasien tidak kooperatif, berisiko trauma yang merusak membran timpani atau struktur telinga tengah.

Otitis Eksterna
Peradangan liang telinga akut maupun kronis yang disebabkan infeksi bakteri, jamur dan virus. Faktor mempermudah radang telinga luar ialah perubahan pH yang biasanya normal atau asam. Bila pH menjadi basa, proteksi terhadap kuman menurun. Pada keadaan udara hangat dan lembab, kuman dan jamur mudah tumbuh. Predisposisi otitis eksterna yang lain adalah trauma ringan ketika mengorek telinga.